Ilmuwan Ungkap Badai Debu “Ganas” di Mars

Ahmad Luthfi – Okezone
Senin, 28 Januari 2013 13:17 wib
detail berita

Ilustrasi (Foto: NASA)

PARIS – Ilmuwan menjelaskan fenomena badai debu besar di Mars. Planet merah tersebut diketahui memiliki lanskap tanah yang sangat kering dan sebagian besar diselimuti dengan debu.

Ilmuwan mengatakan, Mars memiliki badai global yang dapat menyebarkan debu itu hingga menutupi seluruh permukaan planet. Satelit yang mengorbit Mars melihat lapisan debu persisten yang mencapai ketinggian tertinggi.

Dilansir Wired, Senin (28/1/2013), ketinggian debu ini bisa mencapai 30 sampai 50 kilometer di atas tanah. Ilmuwan sampai saat ini masih meneliti bagaimana debu-debu tersebut bisa muncul di Mars.

Ilmuwan telah memodelkan “badai debu roket”, di mana badai tersebut mampu memunculkan petir di Mars. Badai tersebut memiliki kecepatan 100 kali lipat lebih cepat ketimbang badai biasa, serta mampu menerbangkan debu hingga mencapai atmosfer planet.

Menggunakan instrumen beresolusi tinggi, peneliti menunjukkan bahwa gumpalan debu dalam badai dapat dipanaskan oleh matahari. Dengan demikian, suhu di Mars dapat menghangat dengan cepat.

Karena udara panas naik, maka area tertentu dapat menembakkan “roket debu” ke luar angkasa. “Transportasi vertikal begitu kuat,” ungkap ilmuwan planet, Aymeric Spiga dari Institut Pierre Simon Laplace di Paris, Prancis.

Debu tersebut kabarnya dapat melesat dari dekat permukaan ke atmosfer di ketinggian 30 atau 40 kilometer. Kecepatan laju debu tersebut juga mencapai 10 meter per detik (22 mph).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengenal Lebih Dekat Mikroba Mirip Matahari

Ahmad Luthfi – Okezone
Senin, 28 Januari 2013 14:35 wib
detail berita

Centrohelid (Foto: Wikipedia)

WASHINGTON – Centrohelid merupakan grup besar dari heliozoan protists, yang menurut ilmuwan memiliki penampilan menyerupai matahari. Dikatakan mirip matahari lantaran terdapat microtubule yang dinamakan axopods yang memancar keluar dari permukaan sel.

Mikroba ini mampu bergerak di lingkungan air tawar dan laut, khususnya di kedalaman tertentu. Dilansir Scientificamerican, Senin (28/1/2013), sel keseluruhan tersusun secara radial (jari-jari lingkaran) dan terpusat, yang dinamakan centroplast.

Axopods ini membawa kinetosomes atau bentuk khusus (lengket) yang dapat bertindak dalam menangkap mangsa. Axopods ini mampu memanjang, sementara kinetosomes dapat menempel dan menyetrum mangsanya.

Centrohelid dapat bergerak dengan beberapa cara. Sebagian besar dari mikroorganisme ini mengapung dan menggunakan axopods untuk meluncur di sepanjang permukaan air.

Centrohelid berkembang biak dengan cara pembelahan sel. Wikipedia menerangkan, Centrohelid memiliki ukuran diameter 30-80 mikrometer.

Centrohelid memiliki axopod radial panjang, yang berfungsi menangkap makanan dan memungkinkan untuk bergerak. Beberapa jenis Centrohelid tidak memiliki sel pelindung, namun sebagian besar memiliki mantel berlendir serta duri.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Teknologi Modifikasi Cuaca Mampu Cegah Banjir

Ahmad Luthfi – Okezone
Senin, 28 Januari 2013 15:31 wib
detail berita

Ilustrasi TMC (Foto: News.bbc)

JAKARTA – Teknologi modifikasi cuaca (TMC) dinilai signifikan untuk mengurangi, bahkan mencegah terjadinya banjir di Jakarta. Kendati penerapan teknologi ini dirasa lambat ketika curah hujan meninggi, sehingga menimbulkan banjir yang melanda Jakarta beberapa pekan lalu, namun TMC bisa diandalkan untuk mengurangi curah hujan tinggi secara signifikan di hari-hari mendatang.

Sebelumnya, seperti diketahui curah hujan tinggi diprediksi akan kembali terjadi dari 26 sampai dengan 29 Januari 2013. Antisipasi dengan melakukan penerapan TMC yang dilangsungkan mulai 26 Januari 2013, terbukti ampuh menurunkan curah hujan yang terjadi di Jakarta.

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto kepada Okezone, Senin (28/1/2013) mengatakan, pihaknya telah melakukan modifikasi cuaca di 26 Januari 2013. “Ini bertujuan mengantisipasi kejadian hujan deras untuk 26 – 27 Januari 2013,” ujarnya.

Ia mengatakan, 27 Januari 2013, sebagaimana yang juga diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terhitung 25 – 28 Januari 2013 melalui website http://meteo.bmkg.go.id/peringatan/ekstrim, diramalkan curah hujan akan tinggi.

Selain curah hujan yang tinggi, menurutnya pasang surut air laut juga mampu memberikan dampak terhadap jumlah debit air. “Air akan sulit mengalir dari sungai ke laut (apabila laut pasang). Kami berupaya mengurangi curah hujan di Jabodetabek, termasuk bogor,” imbuhnya.

Tujuan rekayasa hujan ini, memungkinkan awan yang bergerak dari barat bisa hujan sebelum mencapai wilayah Jabodetabek. “Secara teori, (TMC) ini signifikan. Kenyataannya sampai hari ini, sangat signifikan (kurangi curah hujan),” terangnya. Ke depan, ia berharap modifikasi cuaca ini mampu mencegah terjadinya banjir di Jakarta.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Gelombang Atmosfer Picu Banjir Besar di Jakarta

Ahmad Luthfi – Okezone
Jum’at, 18 Januari 2013 15:11 wib
detail berita

banjir landa Ibu Kota Jakarta (foto: Dede Kurniawan/Okezone)

JAKARTA – Gelombang atmosfer kabarnya mampu menimbulkan banjir yang terjadi di Jakarta. Dengan munculnya fenomena alam tersebut, curah hujan yang kian meninggi mengakibatkan meluapnya air sungai, sehingga menimbulkan banjir di sejumlah daerah di Jakarta.

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri Handoko Seto mengatakan, fenomena gelombang atmosfer bisa memicu terbentuknya curah hujan tinggi  di Jakarta.

“Diduga, fenomena gelombang atmosfir yang disebut sebagai ‘equatorial Rossby’, berperan dalam proses pembentukan curah hujan tinggi di Jabodetabek,” jelas Seto kepada Okezone, Jumat (18/1/2013).

Seto mengatakan, pengaruh monsun (angin musiman) dan osilasi diurnal juga dapat mendukung terjadinya curah hujan yang tinggi. Massa udara dari laut China selatan dan India bergerak ke selatan menuju pusat tekanan rendah di Australia.

“Massa udara ini kemudian mengalami pembelokan di sekitar Jakarta, akibat tekanan rendah di Samudera Indonesia, di sebelah barat daya Jakarta,” imbuhnya.

Wikipedia menerangkan, monsun atau muson merupakan angin periodic yang terjadi terutama di Samudera Hindia dan sebelah selatan Asia. Muson juga digunakan untuk menyebut musim di saat angin jenis ini bertiup dari arah barat daya di India dan wilayah di sekitarnya.

Aning muson ini menandai curah hujan yang besar. Kata muson sendiri paling sering digunakan untuk merujuk kepada perubahan musiman arah angin di sepanjang pesisir Samudera Hindia, khususnya di Laut Arab.

Muson terjadi karena daratan menghangat dan menyejuk lebih cepat daripada air. Hal ini menyebabkan suhu di darat lebih panas daripada di laut pada musim panas.

Udara panas di darat biasanya berkembang naik, menciptakan daerah bertekanan rendah. Ini menciptakan sebuah angin yang sangat konstan yang bertiup ke arah daratan.

Muson juga dikatakan sebagai fenomena yang terkait dengan siklus cuaca tahunan di benua Asia, Australia, dan Afrika yang tropis dan subtropis.  Konon, di daerah-daerah inilah siklus-siklus peristiwa cuaca yang paling hebat dan dramatis terjadi di Bumi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ditemukan Unsur Es di Bulan Milik Saturnus

Ahmad Luthfi – Okezone
Selasa, 15 Januari 2013 15:31 wib
detail berita

Ilustrasi (Foto: MSN)

CALIFORNIA – Pesawat luar angkasa Cassini milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) baru-baru ini menemukan bongkahan es di bulan milik Saturnus, Titan. Titan diketahui memiliki danau dan laut yang diisi oleh material dari es.

Dilansir MSN, Selasa (15/1/2013), studi terbaru mengungkap, sekumpulan es hidrokarbon mengapung di atas danau dan lautan besar yang ada di Titan. Titan merupakan bulan yang mengorbit Saturnus.

Kehadiran lempengan es di lautan yang mengandung etana dan metana menjadi perhatian para ilmuwan sebagai target penelitian astrobiologis. “Salah satu pertanyaan yang paling menarik tentang danau dan laut adalah apakah mereka mungkin menjadi tuan rumah dari bentuk kehidupan yang eksotis,” tutur peneliti Jonathan Lunine dari Cornell University.

Ia mengatakan, pembentukan es hidrokarbon yang mengambang ini akan memberikan kesempatan ilmuwan di bidang studi kimia. Mereka bisa meneliti terkait unsur cair dan padat di bulan Saturnus tersebut.

Titan merupakan bulan paling besar milik Saturnus. Bulan ini memiliki diameter 3.200 mil. Ilmuwan mengatakan, siklus cuaca Bumi berdasarkan pada air, sementara Titan melibatkan hidrokarbon dengan zat etana dan metana cair, yang jatuh sebagai hujan dan mampu menciptakan danau besar.

NASA Cassini telah melihat jaringan besar dari laut di belahan utara Titan. Armada luar angkasa milik badan antariksa Amerika Serikat ini juga menemukan jaringan yang sama di belahan selatan Titan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

NASA Siapkan Kamera Canggih untuk Pelajari Matahari

Ahmad Luthfi – Okezone
Senin, 21 Januari 2013 15:03 wib
detail berita

(Foto: Spacedaily)

CALIFORNIA – Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, mengumumkan misi luar angkasa berikutnya, Small Explorer (SMEX) yang akan meneliti atmosfer Matahari. Untuk mendukung suksesnya misi tersebut, NASA menyiapkan Interface Region Imaging Spectrograph (IRIS).

IRIS yang dijadwalkan meluncur di April 2013 ini akan dapat menangkap gambar beresolusi tinggi. Selain kecanggihan dalam kamera, perangkat juga memiliki sistem komputer mutakhir untuk mengungkap material luar angkasa, cahaya dan energi yang bergerak dari Matahari.

Permukaan Matahari memiliki suhu 6.000 Kelvin (10.240 Fahrenheit atau 5.727 Celcius) hingga atmosfer luar (Corona) Matahari yang bersuhu 1 juta Kelvin (1,8 juta Fahrenheit atau 999.700 Celcius).

Gerakan energi mampu memanaskan atmosfer Matahari ke temperatur tinggi, yang membuatnya menjadi lebih panas ketimbang permukaannya. Energi ini juga mampu memicu hadirnya jilatan api matahari dan coronal mass ejections (CME).

“Ini adalah pertama kalinya kami akan langsung mengamati wilayah (Matahari) sejak 1970,” kata Joe Davila, IRIS Project Scientist di Goddard Space Flight Center NASA, seperti dikutip Spacedaily, Senin (21/1/2013). Ia mengatakan, pihaknya sangat gembira untuk membawa observasi baru ini dan mengungkap bagaimana corona ini bisa memiliki suhu yang sangat panas.

Misi ini akan melibatkan instrumen tunggal, yakni sebuah teleskop ultraviolet yang dikombinasikan dengan spektrograf  pencitraan yang membantu memfokuskan pada kromosfer dan wilayah transisi. Teleskop akan melihat sekira satu persen dari Matahari di waktu tertentu.

Selain itu, teleskop juga akan menunjukkan gambar yang menampilkan fitur pada Matahari. Instrumen juga akan menangkap setiap gambar baru setiap lima sampai 10 detik dan spektrum setiap satu atau dua detik.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ledakan Sinar Gamma Ancam Kehidupan di Bumi

Ahmad Luthfi – Okezone
Selasa, 22 Januari 2013 05:01 wib
detail berita

Ilustrasi ledakan sinar gamma (Foto: BBC)

CALIFORNIA – Ledakan sinar gamma, yang merupakan ledakan paling kuat yang terjadi di luar angkasa, pernah menerpa Bumi di abad ke-8. Penelitian yang dilakukan di 2012, menemukan bukti ledakan radiasi yang berlangsung di Abad Pertengahan.

Dilansir BBC, Senin (21/1/2013), ilmuwan masih meneliti peristiwa kosmik seperti apa yang menyebabkan terjadinya ledakan sinar gamma tersebut. Studi terbaru menunjukkan, terjadinya ledakan gamma tersebut dihasilkan dari dua lubang hitam atau bintang neutron yang bergabung dengan galaksi Bima Sakti.

Tabrakan tersebut melemparkan sejumlah besar energi. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.

Bukti bahwa Bumi pernah diterjang dengan sinar gamma ini berasal dari temuan peneliti di tahun lalu. Tim peneliti menemukan bahwa beberapa pohon cedar kuno di Jepang, memiliki tingkat yang tidak biasa dari jenis karbon radioaktif, yang dikenal dengan sebutan karbon-14.

Tidak hanya di Jepang, di Antartika juga ditemukan lonjakan dalam tingkat bentuk berilium di es. Isotop ini tercipta ketika radiasi yang kuat menghantam atom di atas atmosfer.

Pengamatan luar angkasa menunjukkan bahwa semburan sinar gamma adalah jarang terjadi. Ilmuwan memperkirakan fenomena ledakan tersebut bisa terjadi setiap 10 ribu tahun sekali.

Tidak hanya 10 ribu tahun sekali, fenomena semburan sinar gamma juga pernah terjadi sedikitnya sekali dalam kurun waktu satu juta tahun. Apabila ledakan kosmik itu terjadi seperti di abad ke-8, maka fenomena itu konon dapat merusak satelit.

Selain itu, ledakan sinar gamma juga bisa merusak lapisan ozon Bumi dan berpengaruh buruk terhadap kehidupan di Bumi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar